Failed.
Tak Sekedar Memejamkan Mata
Berapa jam sih kita butuh tidur? Beberapa di antara kita mungkin perlu tidur hanya 1-2 jam saja, tapi ada yang sampai 12 jam (kebo kali ya?). Selain itu, bila kita perhatikan, ternyata kebiasaan tidur tiap orang pun berbeda. Ada yang tidak suka dengan adanya cahaya, ada yang terganggu dengan musik, ada yang begitu bersentuhan dengan bantal langsung pindah ke alam lain, namun ada juga yang sebaliknya.
Fakta-fakta saat tidur
- Jam tidur tiap orang berbeda, tergantung pada adaptasi dan kebiasaan
Kebiasaan tidur dan kebiasaan tidak tidur seseorang dapat mempengaruhi siklus tidur. Soal hubungan dengan kesehatannya, itu tergantung pada kondisi tubuh masing-masing.
- Kebutuhan tidur dipengaruhi usia
Kalau kita mengamati kakek, nenek, atau bahkan orangtua kita, mereka seringkali terbangun di malam hari, atau cepat sekali bangun di pagi hari. Hal ini disebabkan karena fase terjaga pada tidur mereka sangat cepat terjadi. Sedikit saja suara, atau cahaya yang mereka rasakan, mereka pun akan segera terjaga. Sedangkan seorang bayi, mereka punya waktu tidur hampir sepanjang hari.
- Siklus tidur orang dipengaruhi waktu, misal siang/malam
Bila seseorang yang terbiasa untuk kerja nokturnal, dia akan merasa mengantuk pada siang hari, dan sebaliknya. Namun, sepertinya hal ini tidak terlalu terlihat dari mahasiswa
(Mau kuliah pagi, siang, sore, tetap saja rasanya mengantuk).
- Tidur tidak dapat dipaksa, namun bisa dikondisikan
Hal ini dapat dibuktikan dengan kejadian berikut. Misalnya kita ingin belajar untuk ujian. Supaya kuat bergadang, kita pun memutuskan untuk tidur dahulu, agar bisa belajar dengan lebih segar nantinya. Sayangnya yang terjadi adalah di saat kita mencoba tidur tersebut, kita tidak juga tertidur. Karena lelah mencoba, kita pun mencoba belajar, dan alhasil, malah tertidur
.
Ya, salah satu kondisi yang dapat dilakukan, atau biasanya manjur terjadi adalah membaca buku pelajaran di tempat tidur. Atau seperti kebiasaan tidur tiap orang, keberadaan cahaya, musik, benda tertentu akan membantu kita lebih cepat tertidur.
Apa yang terjadi saat tidur?
Mungkin kita tak asing lagi dengan istilah REM dan NREM. REM berarti Rapid Eye Movement dan NREM berarti No Rapid Eye Movement. Pada gambar di atas dapat dilihat apa saja yang terjadi saat kita tidur. Ya, fase REM dan NREM bergantian terjadi dengan durasi tertentu dan melewati tahapan kedalaman tidur tertentu.
Fase REM adalah saatnya kita bermimpi. Mimpi ini sangat berguna, loh! Dapat dilihat dari pola EEG (Electroencephalography) di sebelah kiri gambar, saat mimpi (fase REM) terjadi, polanya terlihat paling mendatar atau dapat disebut berelaksasi. Sedangkan pada saat deep sleep berlangsung, dapat dilihat bahwa polanya terlihat menajam. Hal ini disebabkan terjadi karena terjadi remodelling tubuh, yaitu seperti detoksifikasi dan pemulihan kembali stamina tubuh kita.
Seperti yang kita lihat, karena fase REM yang pendek dan berulang-ulang, mimpi yang kita alami tidak ada yang bersambung. Kita pun bisa mengalami berbagai mimpi yang berbeda dalam bentuk-bentuk fragmen. Mungkin awalnya kita bermimpi sedang bertemu teman kita di suatu taman, kemudian di REM selanjutnya tiba-tiba di taman yang sama muncul dosen kita, berikutnya lagi muncul keduanya dengan kisah yang berbeda. Yah, namanya juga bunga tidur
Penggunaan Obat Tidur

Mau?
Gangguan tidur tiap orang, atau biasa disebut dengan insomnia dapat disebabkan dua hal, yaitu kesulitan saat memulai tidur, maupun mempertahankan kondisi tidur. Obat tidur yang bergolongan sedatif atau hipnotik memiliki mekanisme mengurangi aktivitas “wake system“. Efek sedatif sebenarnya adalah hanya membuat kantuk, sedangkan hipnotik bersifat menidurkan baik beberapa saat, maupun hingga selamanya. Ya, efek obat ini bergantung pada kuantitatifnya.
Secara umum (benzodiazepin tak demikian) obat-obat ini bergantung pada takarannya. Efek yang ditimbulkan pada obat ini seiring dengan penambahan dosis pemakaiannya: sedasi –> tidur (hipnotik) –> anestesi –> koma –> tidur selamanya. Kematian ini disebabkan oleh karena kelumpuhan pernafasan dan sirkulasi darah sentral dalam tubuh.
Hati-hatilah menggunakan obat tidur. Jadikanlah ini pilihan terakhir, karena untuk tidur sebenarnya dapat dikondisikan. Obat-obat tidur dibuat hanya untuk orang-orang yang mengalami insomnia akut. Satu hal lagi yang penting dalam menggunakan obat ini, yaitu efek gangguan siklus tidur hingga datangnya mimpi buruk yang berulang. Jadi, kalau kita bisa tidur dengan nyenyak, bersyukurlah
Selamat tidur zzZZZzz.
1000 mg of Vit. C :D
Sejak SD kita sudah belajar bahwa vitamin C bisa mencegah penyakit skorbud. Setiap kita mengalami gejala pilek, seperti bersin-bersin dan badan meriang pun biasanya orangtua kita langsung menyuruh kita mengonsumsi vitamin ini. Ya, memang vitamin C merupakan salah satu zat penting untuk menunjang kesehatan kita. Akan tetapi, seberapa banyak sih kita perlu mengkonsumsinya?

Tablet vitamin C
Melihat judul artikel ini mungkin kita teringat dengan sebuah iklan komersil vitamin C di televisi. 1.000 mg berarti 1 gram vitamin C. Wah, banyak juga ya. Bagaimana ya efeknya bila kita mengkonsumsinya terus menerus demikian? Vitamin kan bukan kebutuhan makro. Hem..
Di salah satu mata kuliah di farmasi, kami mempelajari tentang absorpsi dan eksresi obat. Sebut saja farmakokinetik atau perjalanan obat dalam tubuh. Dosenku menyatakan dan memperlihatkan kami beberapa jurnal penelitian akan vitamin C atau asam askorbat. Dan faktanya, konsumsi di atas 400 mg tidaklah memberikan efek yang menguntungkan untuk tubuh.
Beberapa fakta penting dapat kita baca juga di media daring, salah satunya di sini. Di situs tersebut dinyatakan bahwa hanya sekitar 500mg saja vitamin C yang dapat diserap tubuh. Selain itu, kemampuan larut vitamin ini dalam air yang sangat baik, dan kandungan air dalam tubuh kita yang tinggi membuat ekskresi atau ‘pembuangan’ vitamin ini semakin mudah dari dalam tubuh. Apalagi lewat urin. -___-”
Sekarang silakan dibayangkan, berapa banyak vitamin C yang terbuang dengan konsumsi sebanyak 1 gram/hari.
Piksel Mahasiswa
“Ah, kok pecah sih gambarnya’”
“Oh, itu resolusinya kurang besar, cari yang ukuran pikselnya lebih besar lagi, ya”
Piksel merupakan salah satu jenis satuan yang digunakan sebagai ukuran gambar di komputer. Suatu gambar yang ukuran pikselnya kecil, bila diperbesar, maka akan terlihat bentuk kotak-kotak dari bagian gambar tersebut. Lalu, apa sih yang menjadi piksel dalam kehidupan seorang mahasiswa?
Kita ini mahasiswa, yang bukan hanya datang untuk belajar di ruang kelas, namun juga di lingkungan, termasuk dalam berorganisasi dan bersosialisasi. Buktinya, kita menjadi anggota himpunan jurusan, unit, KM, dan organisasi lainnya. Tentu bukan dengan tanpa tujuan, dengan mengikuti organisasi tersebut, kita berlatih untuk menjadi pemimpin, baik atas diri sendiri (dalam manajemen waktu misalnya), maupun untuk orang lain yang bekerja sama dengan kita.
Banyaknya organisasi yang kita ikuti pun menuntut kita untuk membuat prioritas. Ya, kita sebagai manusia yang punya keterbatasan, tentu tidak bisa berada di dua atau lebih tempat sekaligus dalam jenis organisasi yang berbeda. Sebagian dari kita mungkin memutuskan untuk aktif di unit (bisa unit agama, kebudayaan, jurnalistik, dan sebagainya), sebagian besar juga aktif dalam keorganisasian kampus.
Bagi kita yang sudah mengalami berorganisasi, pasti tak asing dengan suasana di dalamnya. Apalagi ITB, yah sebut saja tempat dengan Idealisme Tiada Batas. Berbagai pemikiran, perilaku, dan cara pandang orang-orang yang kita temui akan sangat beragam. Bisa baik, bisa juga berdampak buruk pada diri kita sendiri. Kadang ada saja timbul kekerasan, kecurangan, saling tuduh, memaksakan kehendak, dan kejadian lain yang menimbulkan gangguan dalam hubungan organisasi tersebut.
Terkadang, sadar maupun tidak, kita yang mungkin awalnya mungkin ‘alim’, lama kelamaan pun turut terbawa arus yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari tersebut.
Setiap agama, aku yakin punya keyakinan dengan adanya menjaga diri dan menjaga nilai yang benar. Kejujuran, toleransi, tenggang rasa, menghargai pendapat orang lain, itu semua sepertinya sudah di luar kepala sejak kita mendapat pelajaran PPKn semasa SD. Namun, mengapa pada prakteknya, itu semua seringkali hilang?
Arus organisasi yang tidak sehat itu, seringkali membawa kita karena beberapa hal, misalnya karena adanya rasa ‘gengsi’, takut dijauhi, dianggap tidak ‘gaul’, sok ‘alim’, sok ‘rohani’ dan sebagainya. Kita pun jadi takut untuk terlihat ‘berbeda’ dari orang-orang yang demikian. Seakan-akan ada saatnya kita menjadi orang sekuler, yaitu di kegiatan kita di organisasi; ada saatnya kita menjadi orang rohani, yaitu saat hari kita beribadah.
Analognya yang dipaparkan dalam pengertian piksel di atas. Pengelompokkan kegiatan yang ‘sekuler’ dan hal ‘rohani’ membuat semakin banyak ‘kotak’ dalam ‘gambar’ diri kita. Kita pun seakan tidak menjadi diri kita sendiri, dan menjadi jauh dengan ‘nilai’ yang seharusnya kita pegang. Alhasil, orang yang melihat kita pun rasanya tidak puas, seperti melihat gambar diri yang ‘pecah’. Tak jarang mungkin teman-teman terdekat kita pun kecewa dengan perbedaan sikap dan keadaan kita itu.
Maka, buang pemikiran piksel yang kecil tersebut jauh-jauh. Ayo perbesar resolusi kita, perluas lagi pandangan dan pengetahuan kita. Memang apa salahnya menjaga nilai yang benar itu di tengah kondisi yang tidak benar? Kita tidak seharusnya mengikuti arus dunia kan. Mengutip slogan sebuah produk yang logonya aku gunakan juga di awal:
Think different
Jadi, mari perbesar resolusi kita, berhentilah mengkotak-kotakkan kegiatan kita dengan ada kalanya aku jadi ‘anak rohani’, dan ada kalanya ‘aku sekuler’. Kita pun jadi tidak tertekan karena harus jadi berbeda di tiap kondisi dalam kehidupan kita.^^
(sedikit suntingan dari posting di grup unit agama)
(Kenapa) Berdua Lebih Baik?
Apa yang teringat saat membaca judul artikel ini? Lagu Acha Septriasa-kah?:)
Tak hanya itu sebenarnya. Istilah ini pun seringkali menjadi kutipan dalam tulisan di buku maupun blog. Bahkan bila kita search di e-bible atau mobile bible kita akan menemukan frasa tersebut di Pengkotbah.

Racun yang menyedapkan
Mungkin untuk memahami penyebabnya, kita dapat belajar dari garam, atau dalam pelajaran kimia disebut sebagai NaCl (Lagipula, kita ini garam kan?
) Bila kita lihat dari atom penyusunnya, garam terdiri dari natrium dan klorida. Garam biasanya berbentuk kristal/padatan berwarna putih dan digunakan sebagai penyedap ataupun pengawet dalam makanan. Yap, dimakan.
Coba kita tilik satu per satu penyusun garam ini. Natrium, atau sodium(Inggris) merupakan logam alkali yang bersifat netral dan reaktif dengan air. Saat logam ini terkena sedikit saja air, asap akan langsung timbul akibat kenaikan sifat reaktifnya. Sedangkan klorin yang biasa berbentuk gas (Cl2) bersifat racun dan berbau merangsang. Bila dilihat dari sifat masing-masing penyusun garam ini, rasanya tak ada satupun yang akan berani memakannya. Yang satu reaktif, dan yang lain beracun, berbau pula.
Tapi, selama sekian tahun kita mengkonsumsinya, tetap aman, kan? (Tapi kalau terlalu banyak juga darah tinggi, sih
)
Yup, saat logam dan gas tersebut bergabung dalam sebuah reaksi kimia, akan dihasilkan NaCl yang tidak reaktif terhadap air, tidak beracun, dan tidak berbau merangsang seperti penyusun-penyusunnya. Sifat dan wujud mereka yang berbeda pun akhirnya membentuk suatu kesatuan yang utuh dalam suatu hubungan kimia. Dalam perubahan kimia, sifatnya pun ikut berubah dan hasil reaksinya tidak membawa sifat-sifat asal dari atom-atom pembentuknya. Berarti masing-masing atom yang ingin bersatu harus mengalah satu sama lain, dengan tidak menunjukkan sifat dominan yang terjadi pada masing-masing penyusunnya untuk membentuk suatu kesatuan yang berguna bagi manusia.
Begitu pula kita, persatuan membuat kita dapat saling membantu sebagai satu tubuh. Tapi, untuk terjadinya persatuan tersebut memang perlu adanya penyesuaian diri, adanya rasa harus mengalah, dan toleransi terhadap orang lain. Sifat, sikap, kebiasaan, maupun latar belakang kita yang berbeda seringkali malah jadi penghalang bagi persatuan. Tapi coba lihat deh, kalau semuanya itu dijadikan faktor yang saling melengkapi, bukan perbedaan lagi yang kita lihat.
The Rainy Trip
I love the rain, and I love the stargaze.
But I can’t have it both because there’s no stargaze on the rainy sky.
That’s why there’re always choice and priority
And for whatever you wanna decided, remember:
There’s no absolute good or bad
Because HE can make anything that we think to be wrong is not as it seen.
So, always ask and surrender to HIM
Meluapkan Emosi, Benarkah?
Hari ini aku belajar satu hal lagi soal emosi. Kurang rasanya bila tidak mendeskripsikan kata ini dahulu berdasar KBBI. Emosi dapat diartikan sebagai :1 luapan perasaan yg berkembang dan surut dl waktu singkat; 2 keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis (spt kegembiraan, kesedihan, keharuan, kecintaan); keberanian yg bersifat subjektif). Meskipun emosi tidak hanya berkata soal marah, mari fokuskan emosi dalam lingkup luapan amarah.
Aku setuju dengan pengertian pertama dari kata emosi. Sangat setuju. Bahkan kita diajarkan agar tidak lagi menyimpan amarah sebelum matahari terbenam.
Tapi, bolehkah kita emosi? Bukankah kita harus senantiasa sabar?
Mari belajar dari seseorang yang bernama Daud. Seseorang yang disebutkan sebagai biji mata-Nya Tuhan. Masihkah layak menyebutnya demikian dengan dosa perzinahan yang dilakukannya? Dilihat dari tulisannya sendiri dinyatakan bahwa doa yang diucapkannya pun bertujuan mencelakakan musuh, bukankah kita diajarkan untuk mengasihi musuh kita?
Untuk yang satu ini, coba kita tilik lagi lebih dalam pembacaan kita. Sukacita Daud tetap tergambarkan, padahal dia ‘terhukum’ karena perbuatannya. Dari semua doa-doa yang dipanjatkan, kita dapat melihat bahwa adanya kerterbukaan dan kejujuran antara Daud dengan Tuhan. Dan seperti kita tahu, ketebukaan adalah awal dari pemulihan bukan?
Kecewa, kepahitan, dan dendam seharusnya dapat diredam dengan adanya keterbukaan. Emosi merupakan anugerah dari Tuhan, juga bersifat kompleks dan spesifik pada tiap orang. Jadi, bukan berarti kita harus menyimpan sendiri “anugerah” tersebut. Tapi Tuhan mau kita mengungkapakannya juga pada-Nya.
Dalam hal pengungkapan emosi pada orang di sekitar kita, peganglah ini. Hendaklah kita cepat mendengar, lambat untuk berkata-kata dan marah. Intinya, janganlah terbawa emosimu, dengarkanlah isi hatimu. Karena di dalamnya ada Roh Kudus yang senantiasa menuntun kita. Tak mau kan emosi kita yang harusnya memberkati jadi batu sandungan untuk orang lain.
Jalan-Jalan ke Sorga
Hari Sabtu kemarin aku berkesempatan untuk menilik sebuah tempat yang sebenarnya tidak asing lagi bagiku. Letaknya tak jauh dari kampus, akses menuju ke sana pun tak sulit.
Baiklah, daripada penasaran, aku sebut saja nama tempatnya. Babakan Siliwangi. Ya, sejak kunjungan Tunza ke sana waktu itu, dan katanya terjadi perubahan yang baik di sana, aku belum sempat (menyempatkan) lagi menegoknya. Temanku bilang sih waktu itu jadi bagus.
Dengan sedikit penasaran, aku pun mulai menuruni tangga demi tangga kayu. Ternyata ada sebuah jembatan berangka besi dengan alas papan kayu sebagai pijakannya. Semakin penasaran dengan ujungnya, aku pun menelusuri jembatan tersebut.
Ada dua plang yang dipasang di salah satu sisi jembatan. Plang pertama menceritakan tentang sejarah kota Bandung dan plang ke dua menceritakan soal Babakan Siliwangi. Aku baru tahu bahwa Jalan Siliwangi dan Jalan Taman Sari yang pertemuannya menjadi lokasi dari tempat ini, dahulu bernama De Grooteweg dan Huygenweg.
Di sepanjang perjalanan, aku melihat ada beberapa tempat sampah di sana. WAH, bagus juga. Hem, tapi kok penuh ya? Tak satupun tempat sampah kosong, padahal hari itu masih pagi. Artinya belum ada orang yang mungkin berjalan ke sana. Kalaupun ada, ya tak mungkin sepenuh itu.
Di sela-sela jeruji besi jembatan, kuliat di bawah pun bayak sampah-sampak berserakan. Semuanya sampah makanan ringan, minuman botol, plastik, tersebar dan mewarnai hamparan hijau Babakan Siliwangi.
“Sayang ya, jembatannya hanya segitu. hehe..” Belum lama kutelusuri, aku sudah kembali menemukan jalan pulang. Namun, satu hal lagi yang mengusikku. Salah satu papan di jembatan hilang. Jadi, kalau orang tak hati-hati, bisa saja terjerumus ke lubang itu.
Setahuku belum genap setahun kok jembatan itu dibangun. Apalagi waktu itu pembangunannya diiringi oleh kunjungan dan dukungan dari pihak luar negeri. Atlit dan aktor luar pun turut datang.
Ironisnya, memang hanya sebagian kecil Babakan Siliwangi yang tadi kupaparkan. Tapi, tetap saja, manurut blog yang kubaca tempat itu menjadi hutan percontohan hutan kota bagi seluruh negara di dunia.
Sayang ya?
Kunjungan ke Panti -apapun namanya-
Jumat lalu, di tanggal merah karena Hari Raya Nyepi itu, aku berkesempatan untuk berkunjung ke panti asuhan. Yap, unit agamaku memang mengadakan kunjungan ke 3 panti sekaligus, karena itu setiap pesertanya dibagi untuk pergi ke masing-masing panti.
Uar-uar dan pengumuman yang ada menyatakan Panti yang akan dikunjungi bernama B**** M**** dan letaknya jauhh sekali. Butuh sekitar setengah jam duduk di dalam angkot yang disewa menuju ke sana. Setelah sampai ke daerahnya, kami mencari-cari lokasi yang kami tuju. Kalau kami masih mencari nama yang disebutkan di atas, entah sampai kapan kami akan mencari.
Ternyata nama tadi adalah nama yayasan yang menaungi panti tersebut. Yah, sesampainya di panti, kami langsung dihadapkan dengan kenyataan, bahwa ada kunjungan juga pukul 11, sedangkan kami baru sampai pukul 10.30 ^^.
Alhasil, kesempatan itu kami gunakan untuk makan bersama anak panti, dan karena mereka masih sangat kecil, kami pun menyuapi dan terbawa dengan kenakalan mereka saat makan. Ada yang tangannya tidak bisa diam, semua yang di sekitar dipengangnya, hingga makanan belum habis, tapi sudah berserakkan ke mana-mana. Hem, namanya juga anak-anak.
Dua hal yang membuatku tertarik di saat itu. Pertama soal sang Ibu Panti. Beliau mengajarkan pada saat makan untuk berdoa terlebih dahulu, dengan caranya. “Anak-anak, ayo tutup matanya, kita berdoa. Kalau gak berdoa, nanti ga dikasih makan lho!” Wew, harus seperti itukah mendidik anak-anak untuk berdoa makan?
Ungkapan lain pun muncul saat makan berlangsung, “makanannya harus habis ya, kalau tidak, ga dikasih minum” #aslilah..
Kedua, ternyata kunjungan yang dimaksudkan jam 11 adalah acara ulang tahun. Tapi bukan anak kecil, melainkan orang dewasa sekitar 20 tahun-an yang sepertinya ingin berbagi kasih di hari bahagianya.
Karena mereka telah datang, kami pun menyinkir ke sebuah taman kecil dan makan siang di situ, sambil menunggu angkot pulang kami datang.
Tak berapa lama kemudian, sebuah mobil meluncur dari arah panti, dan berhenti di sebuah rumah persis di depan taman kami duduk. Setelah orangnya turun. Tak lain dan tak bukan, dialah orang yang berulang tahun dan melakukan kunjiungan ke panti tadi.
Dengan lokasi panti yang tak jauh dari rumahnya, namun menggunakan mobil menuju ke sana?
Berpakaian rapi, layaknya akan ke pesta kecil-kecilan, memakai pehiasan yang cukup terlihat, lalu datang ke panti asuhan?
Entahlah, apa yang ada di pikiran mereka ya?
Penyakit Akut Orang Kristen
Mengutip ilustrasi kotbah seorang pendeta di GKI tadi pagi, bagus juga sepertinya direnungkan
.
Seorang jemaat mendengarkan kotbah pendeta di gerejanya, dan merasa terberkati. Kemudian di Minggu berikutnya, dia pun datang dengan semangat lagi ke gereja, dan ternyata pendeta yang sama ditemuinya pagi itu. Tentu saja karena senang dengan kotbah sang pendeta, dia pun semangat mendengarkannya. Tak disangka, kotbah yang didengarnya sama persis dengan kotbah sebelumnya, yang dirasanya memberkati itu. Sama persis bahkan hingga ke titik dan komanya. Jemaat (J) tersebut pun berniat untuk bertemu dan menanyakan langsung pada sang pendeta perihal kesamaan pada kotbahnya itu. Sampai tiba pada saatnya bersalaman dengan sang pendeta (P).
P: Selamat hari Minggu, Pak.
J: Selamat hari Minggu juga, Pak Pendeta. Saya mau tanya, kok tadi kotbahnya sama persis ya dengan kotbah yang Minggu lalu. Saya sampai bingung, bahkan titik komanya pun sama.
P: Loh iya, memang Pak, memang sama.
J: Kok sama gitu sih, Pak. Memangnya kenapa, apa Bapak kehabisan topik untuk dibicarakan?
P: Iya, Pak. Memang bapak mendengar kotbah yang sama dengan yang didengar di gereja Minggu lalu. Tapi, apa bapak sudah melakukannya?
J: (terdiam sejenak) Oh iya ya, Pak, belum. Hehe..
Sudah berapa lama sih kita jadi orang Kristen dan pergi ke gereja? Dari sekolah Minggu? Atau sejak SMP/SMA? Kalau kita hitung-hitung mungkin kita sudah lupa berapa kali kita ke gereja, belum lagi kebaktian hari Natal maupun Paskah, yang terkadang tidak hanya sekali kita hadiri.
Terkadang kita merasa bosan. Tanggapan yang ada di pikiran kita mungkin “Isi kotbahnya itu-itu saja” atau “Ah, sudah pernah dengar”, dan masih banyak kemungkinan tanggapan-tanggapan lain yang kita lontarkan baik dalam hati maupun sambil bergumam.
Tapi inilah faktanya, kalau bahasa farmasinya mungkin “Penyakit akut orang Kristen”. Aku yakin banyak orang yang memiliki pengetahuan akan Firman Tuhan. Tapi, berapakah yang melakukannya?
Sama saja seperti kita melihat ada tanda dilarang merokok di ruangan tempat kita tinggal, tapi kita tetap merokok.Kita tahu, adanya larangan itu, tapi seakan tidak mau tahu.

sumber: http://mandacutie.files.wordpress.com
Terakhir, aku rasa, meskipun firman yang seorang pendeta bawakan itu sama, tapi pasti akan timbul pemikiran baru di benak kita. Sama seperti yang dikatakan seorang Abang padaku. Bahwa setiap membaca Alkitab, akan timbul perasaan yang berbeda meskipun kita telah membacanya hingga tuntas.

