Ya, seharusnya tulisan ini saya terbitkan 3 tahun yang lalu,
saat saya dinyatakan secara resmi telah diizinkan menyandang status ‘lulus’ dari S1 Farmasi ITB (punten pisan, ya).

IMG_8191

Ada banyak kenangan, sukacita, berkat, dari sejak saya membuka situs ITB dan dinyatakan “ya, ini kunci ITB dan kamu boleh masuk, silakan membeli tiket di Peron 9 3/4” hingga saat wisuda ini.
Terima kasih tentunya terutama kepada Tuhan Yesus atas kesempatan ini, terima kasih juga pada tiap pihak yang telah memberikan perhatian, dukungannya, telinga untuk dicurhatkan, nasihat atas setiap keluh kesah, rasa gasalju (galau salah jurusan), dan sebagainya. Mohon doanya agar dapat menjadi anak yang berguna bagi nusa dan bangsa.

Terima kasih atas waktu, tenaga, dan tentunya budget yang kalian keluarkan untuk ini semua! (love love)

IMG_8186

IMG_8211

Sesungguhnya, dari kejadian wisuda ini saya jadi mempelajari, ada berbagai jenis pilihan hadiah yang dapat diberikan di saat temanmu wisuda. Beberapa contohnya ada di foto-foto bawah ini:

bonbon

Mulai dari boneka, sesuatu yang ‘edible’, tanaman, buku, kreativitas pribadi, kartu ucapan, hingga sesuatu yang bermanfaat dan fungsional (seperti 1 pak ’tissue’ untuk menghapus air mata dari semua kenangan sedih dan mengharukan, hingga keringat untuk perjuangan di tahap berikutnya ^^).

Kalau dijadikan soal Family 100, apa hadiah yang paling banyak diberikan saat wisuda ITB? Jawaban nomor 1 survei membuktikan pasti adalah bunga.

IMG_8331.jpg

Kenapa bunga?
Bisa karena berbagai alasan, seperti paling mudah didapatkan (tidak perlu menyediakan waktu khusus mencari hadiah, karena penjualnya berhamburan di sepanjang perjalanan menuju Sabuga), harga cukup terjangkau (yang penting pintar menawar dan tahu harga pasaran misal pernah danus bunga), cukup netral (dapat diberikan ke wisudawan dengan gender manapun, meski sebenarnya cenderung untuk wanita), hingga alasan memang itulah permintaan sang wisudawan.

Sampai dengan saat ini, sebenarnya saya pribadi tidak menjadikan bunga sebagai prioritas hadiah untuk diberikan saat wisuda. Kenapa? Sebenarnya sedikit banyak karena pengalaman pribadi juga.

Tanpa mengurangi rasa hormat dan rasa terima kasih super atas pemberian kalian yang sungguh luar biasa ini, serta mengingat budget yang kalian sudah relakan untuk ini..

.. sesungguhnya inilah yang terjadi kemudian setelah bunga-bunga tersebut dibawa pulang.

Awalnya saya coba untuk membuat rangkaian bunga dari tiap kuntum yang berwarna warni ini dalam ember.

Saya pisahkan satu per satu, per warna dan jenisnya.

IMG_8250

Sampai dengan beberapa hari, saya coba tetap simpan di dalam ember berair, dengan air yang diganti juga tentunya, dengan harapan tetap segar seperti sedia kala.

Namun apa yang terjadi dalam waktu kurang dari satu minggu?
IMG_8536

Taraaaaaa… Di kelopak bunganya tumbuh jamur, Saudara-saudara :’)

Entah karena lingkungan yang memang lembab, saya kurang dapat merawatnya, atau alasan lain, akhirnya saya mencoba hal lain untuk ‘tetap’ menyimpan mereka.

Saya coba buat tiap kelopaknya menjadi herbarium dengan cara dikeringkan.

IMG_8534IMG_8252IMG_8253

IMG_8541

Setelah dicabuti satu per-satu (cantik, sungguh terima kasih sekali lagii ^^), coba dikeringkan, namun karena tidak mendapat lingkungan dengan sinar matahari yang cukup, lagi-lagi kelopaknya agak basah dan juga tumbuh jamur (mungkin seharusnya diselipkan di antara kertas yang bukan kertas majalah).

Tapi sekali lagi, sungguh terima kasih atas setiap helai, kelopak, kuntum, rangkaian bunga yang telah diberikan. Mohon maaf saya belum bisa menjaga amanah menyimpan kenangan ini dari kalian. (T _ T)

Sekian kenang-kenangan dan kenangan wisuda S1 saya. Sebenarnya ada banyak cerita, banyak ucapan terima kasih yang harusnya saya ungkapkan, namun tidak akan cukup habis saya ungkapkan di sini.

Mohon maaf tidak menjaga bunga-bunganya abadi, tapi semoga foto-foto di sini tetap tersimpan baik dan tentunya menjadi kenangan manis bagi saya dan pembaca, maupun pemberinya.^^ (19 Oktober 2013)

894778_10202183816097992_1863689797_o

 

Iklan

Tiga Tahun Kemudian. . .

done

Terima kasih terutama pada yang di Atas untuk kesempatan ini.
Terima kasih atas semua dukungan doa dan semangat dari nun jauh di sana, dekat di hati dan dekat di sini. Love all of you FULL.

Meski tak sepenuh hati sukacita dalam hati,
tak semua dari kita bersama beracara di 8.9.16 mendatang,
tetap semangat, tetap yakin jalan-Nya yang terbaik.

10151185_10207923933164860_7922149113406025743_n

This is only the Beginning of something Great.

Who Can Find a Virtuous Moman? Me!

Proverbs 31:10-31

Virtuous can be defined as having good moral qualities and behaviour, it is not just about woman, man also can have this characteristic. But my writing now is not talking about miss universe or popular woman who was tested for their beauty, brain and behavior. If this question is asked to me, I will surely answer this. I know her, and she is very close to me. Who is she?

When I know about Proverbs 31: 10-31, I was surprised and  was wondering is there any woman can be like written on it. What a perfect person, not only beauty from outside, but also inside her heart and very very smart person, I think. Ya, the same question to me, who can find her?

After I read them, I realize that the woman is really really near from me. Yes, I remember about my beloved mother. ^^

My mother is the youngest daughter in her family, she has two sisters and one brother. After get married, she run a business in front of our house. She sell some daily necessity and also buy the stock by herself. My father sold some card and mobile phone accessory many years ago, but he had been stopped. After that he sometimes help my mother but not at all. If there is a product salesman come to our shop, me, my sisters, and my father always ask or wait for her decision to buy the supply (Pro 31:11 and 13-14). When she is not home, actually we cannot decide anything.

Not just running a business, she also is a good housewife. She wake up early in the morning, go to the market, buy some vegetables and meat or fish, cook for our family, wash the dirt cloth, dry them in the sun, and also do the ironing. We used to have some maidens, but she decide not again and do all the housework by herself. And when we have, she also delegate the task for them. (Pro 31:15)

Not only good for the family, she also open-handed to help our neighbor and sometimes give food for the poor. She is a good listener too, I think. Because some people are used to tell their problems or story to my mom. She listen it carefully, and also give some recommendation or suggestion for them (Pro 31:12, 20).

And this verse, Pro 31:26 : “She openeth her mouth with wisdom; and in her tongue is the law of kindness.” I learn this from my mom so much. I don’t even remember what time she scold me. She have her own way to train her children. No wonder this verse Pro 31:28  “Her children arise up, and call her blessed; her husband also, and he praiseth her” is happened.

She always take care our family and also her mother in my uncle’s house. Almost every morning, before open the shop or after go to the market, she visit my grandmother, cook for her or bring her some food and another necessary (Pro 31:27). I wonder how strong and diligent is she. My grandmother is already old and having some childish syndrome, repeating some order or question, also hard to do anything by herself. Someday, when we visited my grandma, she asked me, “If someday I become old or like her, just bring me to the old-folks house.” I very surprised and also very sad to hear that. She really don’t want the people around her having some trouble because of her. But I promise, it won’t be like that, Mom. 😥

I learn so much from her, her patient, not egoist, always do the best, kind to everybody, and very struggling person. She is my role model and I hope some day I will become her. Thanks mom for bringing me to this world and teach me how to love. ❤

Aku GA MAU Ah Jadi Mentor!

Sungguh, judul tulisan ini bisa menjadi pilihanku saat-saat itu. Tapi aku percaya, semua yang kualami itu semua masih ‘on the track’, jalan-Nya Tuhan. Bisa jadi, bisa jadi.

PRO KM 2009, PMB PMK 2009

Masuk kampus ini buatku suatu tantangan, bukan hanya dari segi bisa masuk, tapi meninggalkan banyak hal. Rumah di kota kelahiran, keluarga, hingga teman-teman satu sekolah. Ya, aku sendiri di angkatanku yang ‘tersesat’ (tapi tahu arah jalan pulang^^) di kampus ini. Dari yang awalnya tidak jelas mau kuliah di mana, sempat tertarik dengan kampus lain yang didominasi oleh teman sepermainan, akhirnya Tuhan bilang lewat layar komputerku, Sekolah Farmasi ITB.

Takut, pasti. Sudah terbiasa dengan pergaulan teman se-‘genk’ ala siswi SMA. Tidak terbiasa juga dengan budaya sekolah negeri karena semua jalan pendidikan yang kutempuh di jalur swasta dan berlatar Kristiani. Akhirnya, sampai tibalah di hari PRO-KM. Di situlah, aku bertemu juga dengan Kakak mentorku pertama kalinya. Kaget memang dengan keberadaan PMK (istilahnya pun baru aku tahu) yang ada di lingkungan sekolah negeri.

Kakak mentorku, Kak Marsel TL ’07. Dialah yang memberitahukanku perihal keselamatan dan lahir baru. Puji Tuhan, aku bersyukur bertemu seorang Kakak yang sangat perhatian dan mengawali langkahku di kampus dengan sesuatu yang baik. Aku pun mulai mengenal pemuridan dan pelayanan lewat PMK ITB.

PMB PMK 2010

Tak pernah terpikir olehku untuk jadi seperti sang Kakak. Saat kumpul PRO KM dulu, kami sekelompok sepakat bersemangat sekali untuk menjadi panitia PRO KM selanjutnya, baik itu taplok, keamanan, ataupun medik. Yaa, namanya juga Tuhan yang merencanakan, di OSKM 2010 akhirnya malah jadi panitia PMB PMK di bidang yang diperbolehkan juga menjadi mentor saat itu.

Aku teringat dengan pelayanan Kakak mentorku. Merasa terberkati, aku pun bertanya dalam hati, “Kenapa tidak membagikan hal sama seperti yang sudah kuterima dulu? Toh pasti banyak anak-anak baru yang mengalami hal sama waktu aku masuk kampus ini dulu”. Akhirnya dengan berbagai keraguan yang masih melekat, mentor pertamax kujalani saat itu.

Glek’. Langsung dapat tiga adik mentoooor… Nyanyanya, mau ngomong apa ini. – -“

Haha, untungnya lewat pembekalan mentor, kami dilatih dan dipersiapkan. Mulai dari menyusun daftar pertanyaan, hingga simulasi mentoring sebenarnya. Konsepnya tetap kontekstual, maka di simulasi tersebut kami dihadapkan dengan berbagai macam adik mentor. Mulai dari anak gahul Jakarta hingga anak daerah yang baru pertama menginjakkan kaki di Bandung pertama kali. Mulai dari yang alim hingga dominan berbicara.

aata

Ya semua tetap bisa terjadi, masalah adik mentor susah dikontak, diajak bertemu seringkali tidak jadi, sms ga dibalas-balas padahal sudah pakai emotikon (^^, :3, :), :9), jadwal yang berbeda-beda, itu semua menjadi warna-warni khas mentoring yang bisa kita tertawakan bersama pada akhirnya.

PMB PMK 2011

Masih dengan isi hati yang sama dan motivasi yang sama, yaitu mau berbagi; merasa kurang maksimal di PMB sebelumnya, akhirnya aku memutuskan jadi mentor lagi.  Aku pun semakin sadar kunci mentoring adalah komitmen waktu, kedekatan dalam komunikasi, serta kontekstual dalam tiap keadaan, selain tetap berdoa tentunya.

PMB PMK 2012

“Tuhan, tahun ini aku mau KP ya, jadi ga bisa jadi mentor.” ^^ 

Mungkin ada sedikit nada pembenaran di situ, tapi yang pasti niatanku penuh untuk KP di tingkat tiga karena memang punya tujuan untuk hidupku ke depannya. Dasar memang bukan saatnya, akhirnya aku tidak jadi KP dan memutuskan untuk ada di Bandung saja.

Sampai H-1 mentoring pun belum ada niatanku. Saat paanitia PMB menanyakan kesediaanku lewat ponsel pun, aku masih mencoba menolak. Ternyata seorang mentor perempuan mengundurkan diri dan membutuhkan mentor pengganti. Dua kali, “Aku pikirkan dulu ya, Dek.” “Aku tunggu jawaban Kakak jam 19.15 lah ya, Kak. Makasih.” Hingga telepon kadiv mentor saat itu ketiga kalinya. Akhirnya aku tak bisa memungkiri, Tuhan memang mau aku jadi mentor lagi. ^^

“Tuhan, ini tingkat 3 loh, kalau mentoring di Sabuga sih bisa, kalau di luar itu gimana :'(” “Masih bisa nyambung ga ya sama anak barunya? Mereka sekelompok bisa dekat ga ya..”

Dan bukan suatu kebetulan juga menurutku pemberlengkapan mentor tahun itu ada setelah pertemuan pertama dengan mahasiswa baru pertama kali, intinya aku masih bisa ikut pemberlengkapan mentor. Hahahaha.

Bukan kebetulan juga setiap rangkaian kegiatan PMB bisa aku ikuti bersama adik mentorku.

Bukan juga sebuah kebetulan kami bisa tetap dekat sampai aku pun dikerjai oleh mereka berdua (sebut saja Universe) :O.

581018_454972621220599_1076003315_n

Setelah beberapa kali mengalami mentoring, ternyata masih bisa loh ada rasa takut dan khawatir. Tapi ya semua itu bisa dikalahkan dengan sukacita mengenal mereka dan bisa mengenalkan Yesus pada mereka.

Dan.. Hubungan mentor bukan saja terjadi pada PMB loh, hihi. Beberapa adik mentorku akhirnya menjadi adik PA-ku. Yang tidak pun kami masih terkadang berkomunikasi. Jadi, jangan sekadar berpikir untuk stop hingga masa akhir mentoring ya. ^^9

Selamat mempersiapkan diri ya, Adik-Adik. Tuhan yang Memampukan. ^^

========================================================================================================================

Tulisan ini dibuat agar kita semua sadar, Tuhan memakai kita bukan karena kita mampu, tetapi kita mau.

#6

Ocean

Ombak


I am a flower quickly fading,
here today and gone tomorrow,
wave tossed from the ocean,
vapor in the wind…


[Casting Crown-Who Am I]

Apa sih warna uap? Yap, kita dapat melihat bahwa uap berwarna putih, tapi hanya sebentar saja. Selanjutnya uap akan menghilang dari pandangan kita dalam waktu satuan detik. Begitupun ombak, yang kekuatannya sangat besar, namun setelah terhempas, gulungan tersebut pun akan hilang di lautan.

Begitulah waktu kita di dunia, singkat dan sementara saja*. Oleh karena itu kita harus memanfaatkannya dengan maksimal.

Teringat lagi dan diingatkan kembali oleh teman-teman seangkatan yang sudah bekerja sekarang. Harta, mungkin itu yang dikejar oleh banyak orang hingga sekarang. Tapi ternyata tidak semua yang kaya itu bahagia kok. Lagipula, kalau nanti kita pulang pun (*), ga akan dibawa juga harta kita di dunia.

Ada benarnya juga pernyataan ini:

“Setiap orang harus menjadi kaya agar mereka mengetahui kalau kekayaan bukanlah jawaban atas apa yang kita cari di dunia ini.”-somebodyiusedtoknow

Only with One Sign and Design

'E'postrophe

Hi, I called by apostrophe!

Teman-Teman, Mari Kita Berdoa

doa

Didengar oleh Allah

Terima kasih Tuhanku
Atas pemberian-Mu;
Berilah aku kekuatan
Melakukan maksud Tuhan;
Dan ampuni dosaku
Dalam nama Anak-Mu. Amin.

Teringat dengan doa yang diucapkan di Taman Kanak-Kanak dulu. Dulu belajar menghapal, sekarang jadi terasa sekali maknanya. Dari ungkapan sederhana, tapi mencakup semuanya. Mulai ucapan syukur, doa permohonan, serta pengampunan dan pengakuan dosa.